Banyak orang merasa cepat lelah, ngantuk di siang hari, atau sulit fokus padahal aktivitasnya tidak terlalu berat. Salah satu penyebab yang sering disepelekan adalah pola makan tidak teratur. Melewatkan sarapan, makan siang terlambat, atau jam makan yang berubah-ubah ternyata punya dampak besar terhadap energi tubuh sepanjang hari. Topik ini juga sering dibahas dalam berbagai penelitian kesehatan global karena berkaitan langsung dengan metabolisme dan produktivitas harian.
Hubungan Pola Makan dan Energi Tubuh
Tubuh manusia bekerja seperti mesin yang membutuhkan bahan bakar secara konsisten. Makanan berfungsi sebagai sumber energi utama yang diubah menjadi glukosa. Menurut penjelasan dari Harvard Health Publishing dan World Health Organization (WHO), kadar gula darah yang stabil sangat penting untuk menjaga stamina, fokus, dan suasana hati.
Ketika pola makan tidak teratur, tubuh kesulitan mengatur suplai energi. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan secara bertahap justru naik turun drastis. Inilah alasan mengapa seseorang bisa merasa sangat bersemangat di pagi hari lalu tiba-tiba lemas menjelang siang.
Melewatkan Waktu Makan dan Dampaknya pada Metabolisme
Gula Darah Jadi Tidak Stabil
Salah satu efek paling cepat terasa dari pola makan tidak teratur adalah turunnya kadar gula darah. Saat tubuh terlalu lama tidak mendapatkan asupan makanan, gula darah menurun dan memicu rasa lelah, pusing, bahkan sulit berkonsentrasi. Mayo Clinic menyebutkan bahwa kondisi ini juga dapat memicu keinginan makan berlebihan di waktu berikutnya.
Ketika akhirnya makan setelah terlalu lapar, tubuh cenderung menyimpan energi dalam bentuk lemak karena menganggap kondisi tersebut sebagai “ancaman kekurangan makanan”. Ini membuat energi tidak langsung bisa digunakan secara optimal.
Tubuh Masuk Mode Hemat Energi
Jika pola makan tidak konsisten terjadi terus-menerus, tubuh akan beradaptasi dengan cara memperlambat metabolisme. Menurut penelitian nutrisi yang dirilis oleh National Institutes of Health (NIH), tubuh akan menghemat energi sebagai bentuk perlindungan. Dampaknya, meskipun sudah makan, tubuh tetap terasa lemas dan tidak bertenaga.
Baca Juga:
9 Bahan Makanan Alami yang Membantu Menjaga Daya Tahan Tubuh
Pengaruh Pola Makan Tidak Teratur Terhadap Otak
Fokus dan Konsentrasi Menurun
Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Saat asupan makanan tidak teratur, pasokan glukosa ke otak terganggu. Inilah alasan mengapa orang yang sering telat makan cenderung lebih mudah lupa, sulit mengambil keputusan, dan cepat merasa stres.
American Psychological Association juga menyebutkan bahwa ketidakseimbangan nutrisi bisa memengaruhi fungsi kognitif, termasuk daya ingat jangka pendek dan kemampuan berpikir cepat.
Mood Jadi Tidak Stabil
Pernah merasa mudah marah saat lapar? Itu bukan sekadar perasaan. Pola makan yang berantakan bisa memengaruhi hormon yang mengatur suasana hati seperti serotonin dan kortisol. Ketika tubuh kekurangan nutrisi di jam-jam tertentu, produksi hormon tersebut menjadi tidak seimbang.
Akibatnya, energi emosional ikut menurun. Bukan hanya badan yang capek, tapi juga mental terasa cepat drop.
Peran Sarapan dalam Menjaga Energi Seharian
Sarapan Sebagai Sumber Energi Awal
Sarapan sering disebut sebagai waktu makan terpenting, dan ini bukan tanpa alasan. Menurut British Nutrition Foundation, sarapan membantu “mengaktifkan” metabolisme setelah tubuh berpuasa selama tidur malam. Tanpa sarapan, tubuh akan memulai hari dengan defisit energi.
Orang yang melewatkan sarapan cenderung merasa sangat lapar di siang hari dan memilih makanan tinggi gula atau lemak, yang justru membuat energi cepat naik lalu turun drastis.
Sarapan dan Produktivitas
Beberapa studi pendidikan dan kesehatan menunjukkan bahwa orang yang sarapan secara teratur memiliki tingkat fokus dan produktivitas lebih tinggi. Ini berlaku bukan hanya untuk pelajar, tapi juga pekerja kantoran dan atlet ringan. Energi yang stabil di pagi hari membantu tubuh bertahan lebih lama tanpa rasa lelah berlebihan.
Jam Makan yang Berantakan dan Ritme Sirkadian
Tubuh Punya Jam Internal
Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur kapan kita merasa lapar, mengantuk, dan berenergi. Pola makan tidak teratur bisa mengacaukan ritme ini. Menurut Sleep Foundation dan jurnal nutrisi internasional, makan di jam yang selalu berubah-ubah dapat membuat tubuh bingung menentukan kapan harus melepaskan energi.
Akibatnya, rasa lelah bisa muncul di waktu yang seharusnya produktif, seperti pagi atau siang hari.
Makan Terlalu Malam dan Efeknya
Makan terlalu malam juga termasuk pola makan tidak teratur. Kebiasaan ini membuat tubuh bekerja keras saat seharusnya beristirahat. Energi yang seharusnya digunakan keesokan harinya justru habis untuk proses pencernaan malam hari, sehingga pagi terasa lesu.
Kekurangan Nutrisi Akibat Pola Makan Tidak Teratur
Asupan Makro dan Mikro Nutrien Tidak Seimbang
Pola makan yang tidak terjadwal sering kali membuat pilihan makanan menjadi asal-asalan. Tubuh bisa kekurangan karbohidrat kompleks, protein, zat besi, dan vitamin B yang berperan penting dalam produksi energi. WHO dan FAO menyebutkan bahwa defisiensi zat gizi mikro sangat berpengaruh pada stamina harian.
Tanpa nutrisi yang cukup dan tepat waktu, tubuh seperti dipaksa bekerja tanpa bahan bakar yang sesuai.
Energi Cepat Habis Meski Sudah Makan
Ini yang sering membingungkan banyak orang. Sudah makan, tapi tetap cepat capek. Salah satu penyebabnya adalah jarak antar waktu makan yang terlalu jauh, sehingga tubuh sudah terlanjur “kosong”. Energi dari makanan tidak bisa langsung menggantikan energi yang sudah habis.
Kebiasaan Pola Makan Teratur dan Manfaatnya
Energi Lebih Stabil Sepanjang Hari
Makan dengan jadwal yang konsisten membantu tubuh mengatur energi secara bertahap. Banyak ahli gizi menyarankan makan utama dan selingan sehat di waktu yang relatif sama setiap hari agar kadar gula darah tetap stabil.
Dengan pola ini, tubuh tidak perlu bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri, sehingga energi terasa lebih tahan lama.
Tubuh Lebih Siap Menghadapi Aktivitas
Pola makan teratur juga membuat tubuh lebih siap menghadapi aktivitas fisik dan mental. Tidak ada lagi rasa lemas mendadak atau ngantuk ekstrem di siang hari. Energi terasa lebih “rata” dan bisa diandalkan sampai malam.
